Tampilkan postingan dengan label Praktek Diet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Praktek Diet. Tampilkan semua postingan

Senin, Mei 19, 2008

Quaker Oats Dicampur Sambal, Mie Rebus dan Semur, Enak Juga

Keasyikan ngisi blog yang lain, kelamaan tak posting di blog ini. Hmmm...padahal, ada yang juga pantas menjadi bahan bagi teman-teman penderita atau calon penderita diabetes. Utamanya, yang ''diancam'' bahaya kolesterol.

Begini ceritanya. Sekarang saya mengisi sarapan pagi tetap makan quaker oats. Tapi sudah tak pakai gula diabetasol lagi. Enek juga makan gituan. Sekarang saya coba makannya dengan sambal cabe bikinan istri. Lezat juga, seperti makan bubur ayam.

Terkadang, jika istri masak semur, kuahnya itu saya campurkan dengan quaker oats. Hmmm...mak nyus. Dan terakhir, pagi tadi, istri masak mie rebus. Nah ini, karena kuah mie rebus masih panas, saya celupkan quaker oats. Wow, rasanya tak ada berubah. Terpenuhi juga selera makan mie.

Tapi saya tetap ingat BNI. Batasi, Nikmati dan Imbangi anjuran dokter yang pengarang buku di sebelah postingan blog ini. Tetap tidak banyak, secukup saja. Mie rebusnya dikit, kuahnya agak banyak dikit, dan quaker oatsnya dua sendok.

Jika teman-teman ada trik lain, silakan beri kabar ya...

Kamis, Mei 08, 2008

Delapan Set Main Tenis Meja, Tetap Kuat dan Malah Menang

Maaf, baru hari ini bisa postingan lagi. Maaf, saya postingan dalam keadaan menurunkan panas, karena baru saja usai bermain tenis meja 8 set, dengan tiga lawan berbeda. Mainnya dimulai pukul 16.15 WIB.

Lawan pertama, Doby namanya. Saya kalah satu set. Dia memang jagoan main tenis meja di kantor kami. Oh ya, tenis meja kami berada di belakang meja komputer. Tak pernah dilipat, dibuka terus, jadi kapan saja, siapa saja bisa main. Pakai AC dan karpet lagi. He..he...

Lawan kedua, anak PKL di kantor. Saya menang 2-1. Malahan, menang dulu 2-0. Tapi si anak PKL masih ngajak terus set ketiga. Deuce-nya berkali-kali di set ketiga itu. Sehingga, kami sama-sama loyo. Dia akhirnya menang, tapi langsung berhenti bermain.

Lawan ketiga, Ijal. Hmm...ini musuh bebuyutan di tenis meja. Asyik main sama dia, karena super serius. Saya bisa menang 2-0 dulu, lalu set ketiga kalah, tapi di set keempat, menang. Si Ijal heran, karena saya biasanya di kasih sebelah kanan tak bisa smash, tapi kali ini smash saya masuk terus.

Dan saya juga heran, karena hari ini saya puasa, tapi tetap bisa bermain dan menang.

Kamis, Mei 01, 2008

Hari Ini Makan Jengkol, Nasi Goreng dan Soto

Hmmm...hari ini makan tidak bertakar lagi. Pasalnya, lapar kali saat mengikuti tim jelajah pulau. Lebih mengilerkan lagi, makannya pakai jengkol segala. Lalu di rumah pun, sudah menyambut nasi goreng spesial dan soto. Hmm...yang ini, ada tetangga yang anaknya ultah.

Bagaimana komentar istri? Hmm...dia mendukung saya mengisi hari libur dengan kegiatan positif. Lalu yang masak dan jadi panitia ultah tetangga itu, istri saya juga. Ya iyalah, makanannya datang juga ke rumah.

Kisah saya jelajah pulau bisa diklik di sini

Selasa, April 29, 2008

Setelah Tak Makan Obat, Tubuh Lebih Enak Malah

Di postingan 24 April, saya memutuskan tak makan obat lagi (glumin dan captopril), wah tubuhnya rasanya lebih enakan malah. Tak melayang-layang seperti orang kena ''mabuk'' obat. Mengapa ya?

Belum bisa saya jelaskan mengapa. Yang pasti, saya masih tetap melakukan makan nasi hanya 100 gram. Malah, itu dilakukan hanya khusus makan siang. Karena sarapan pagi, pakai quaker oats saja dua sendok. Makan malamnya, sayuran dan buah saja.

Jika pun makan malam makan nasi, atau sarapan pakai nasi goreng, tetap saja porsinya hanya masing-masing 100 gram. Dalam daftar diet saya, kan hanya boleh makan nasi 100 gram tiap kali makan.

Sore juga masih rajin main tenis meja. Minimal lima set. Uniknya, sekarang saya selalu menang. He..he...

Jumat, April 25, 2008

Hari Pertama Sukses Tak Makan Obat, Malah Puasa Juga

Kamis kemarin, sukses tak makan obat (glumin dan captopril). Tak ada lemas badan, atau pusing dan sakit di leher (itu mungkin tanda tensi naik). Malah, kemarin sukses juga puasa sunat, yang selalu saya lakukan Senin-Kamis.

Istri sempat khawatir juga, karena saya sahurnya tak makan nasi. Kebetulan terbangun jam 4 (sebenarnya ingin nonton semifinal Liga Champions, Barcelona v MU), ya udah ingat mau puasa, sahurlah (biasanya saya tak pernah sahur, jika puasa sunat). Sahurnya pakai dua sendok quaker oats dikasih gula tropicana khusus diabet. Lalu saya juga minum MDL 525 segelas. Dan tentu saja air putih. Oh ya, ada juga, dua atau tiga potong ya, pepaya.

Sore kemarin, malah saya juga ''memberanikan'' diri bermain tenis meja. Alhamdulillah, memang lima set, tapi saya tak ''segarang'' kalau tak puasa, mainnya. Lalu tepat jam enam sore, saya sudah berada di rumah, dan berbuka setelah dengar azan magrib dari masjid.

Mau tahu bukaannya? Tetap saya hanya makan nasi 100 gram, padahal istri sudah nambahin dikit. Saya kurangi. Tapi ada juga karbohidrat lain, yakni ubi kayu (singkong) yang digoreng istri. Sayurnya, tumis buncis dan wortel. Lauknya, ikan gembung. Hmm..lahap. Tak lupa juga diselingi makan buah pepaya. Jam 10 saya makan satu sendok quaker oats dan segelas MDL 525.

Hari ini, pagi telah dilalui dengan aktivitas jalan pagi. Lumayan bisa dua kali putaran lapangan bola kecil yang tak jauh dari rumah. Sarapannya, ini aneh, quaker oats dicampur susu kedelai. Saya pikir, kalau dilakukan satu per satu, pasti di lambung ketemu juga. Ya sudah, saya bikin saja satu gelas. Ha...ha...

Jumat, April 18, 2008

Pagi Ini Sarapan Quaker Oats

Siang kemarin, jadi juga makan nasi bungkus. Wuih, gembung sekali perut. Apa karena saya sudah terbiasa makan nasi hanya 100 gram ya? Apa cacingnya, sudah terbiasa 100 gram saja terima nasi?

Pagi ini, sudah belajar sarapan pagi pakai Quaker Oats. Lama milihnya memutuskan beli malam kemarin. Karena ada dua warna. Ada biru dan merah. Rupanya, yang merah tanpa dimasak. Sedangkan biru harus dimasak. Dan satu lagi, kalau di Batam, ada Quaker Oats yang dari Jakarta, sama yang dari Malaysia. Tapi yang dari Malaysia harganya lebih murah. Jadi yang saya pilih yang dari Malaysia (maaf ya, tak mencintai produksi dalam negeri. Eh itu produksi negeri sendiri, atau hanya sekedar penyalurnya saja ya alias distributor).

Dan pagi ini pun, saya dapat tips dari sahabat yang sudah bertahun makan Quaker itu. Inilah petikan chating saya dengannya.

tghimansantoso: ASSALAMUALAIKUM WR.WB
pondok pulsa: www
pondok pulsa: wah pagi nih
tghimansantoso: BIASA JAM 7.30 SUDAH DI OFFICE PAK
pondok pulsa: tak ngantar anak sekolah lagi?
tghimansantoso: SEKALIAN ANTER KE OB TRUS KE PENUIN
pondok pulsa: oo gitu
pondok pulsa: pak, pagi ini saya mulai sarapan dengan QUAKER OATS
tghimansantoso: ITU DULUAN JAM 6.30 HE..HE..
tghimansantoso: HE..HE...UNTYUK SERAP KOLESTEROL KAYAK SPON
tghimansantoso: YANG PENTING JANGAN BOSAN...
pondok pulsa: udah pernah coba itu pak...
tghimansantoso: SUDAH SEJAK 2-3 TAHUN YANG LALU...MASIH SERING SIH PAK
pondok pulsa: bagaimana bapak cara makannya....jadwalnya...
tghimansantoso: KADANG BOSAN BERHENTI...KARENA MUNGKIN NEK KALI YA
tghimansantoso: ITU UNTUK PAGI AJA PAK.....KALAU SIANG ATAU MALAM TAK KENA SAMA SAYA HE..HE..
pondok pulsa: tapi bolehkah, siang dan malam kita makan?
BUZZ!!!
tghimansantoso: boleh kalu tak bosen he..he...sekalian aja makaan seharian he..he..jadi kayak orang belanda
tghimansantoso: ntar lemes pak....
pondok pulsa: sebab, saya baca kotak yang buatan Malaysia, tak ada kapan di makan
pondok pulsa: tapi kalau di iklan tv Indonesia, katanya utk sarapan pagi
tghimansantoso: memang cocok untuk sarapan...ditambah susu cair makannya
tghimansantoso: atau milo cair
tghimansantoso: tapi pernah satu bulan continue...badan lemes juga pak..kayak kurang tenaga
pondok pulsa: tadi saya pakai air panas aja pak
pondok pulsa: ooo pakai susu juga ya?
tghimansantoso: KALAU TAK DIKASIH APA-APA WAH...TAPI COBA AJALAH PAK...
pondok pulsa: iya, lain rasanya tadi...
pondok pulsa: nanti saya mau beli gula TROPICANA, atau susu cair atau milo seperti bapak tadi
tghimansantoso: TAPI SUSU DAN MILONYA JANGAN BANYAK-BANYAK BIAR SEKEDAR UNTUK BAU-BAU SELERA AJA
pondok pulsa: oke

Kamis, April 17, 2008

Makan Nasi Bungkus Hari Ini?

Hmm...ada tawaran menggoda hari ini. Teman-teman kantor ngajak makan nasi bungkus. Katanya, ada kelebihan dana dari acara yang dibuat. Jadi, tanda pembubaran panitia, makan nasi bungkus bersama.

Haruskah saya lahap? Hmm...perut pun keroncongan saat postingan ini. Sudah hampir jam 12 siang. Ayo...bagaimana ini?

Rabu, April 16, 2008

Tak Lahap Nasi Lagi Jika Malam

Sudah lebih tiga malam ini, nasi tak lagi jadi menu makan malam. Malah, bisa disebut, saya tak makan malam lagi. Tapi tetap saja, sisa sayur yang dimasak istri, malam itu saya lahap. Temannya, biasanya ada tahu atau tempe. Juga lauk ikan goreng jika masih ada. Sayang kan, jika tak dihabiskan dan tergeletak saja di dalam tudung saji?

Senin, April 14, 2008

Belum Puasa Senin-Kamis

Tadi subuh, ragu-ragu mau lanjutkan puasa atau tidak. Karena, gagal bangun sahur. Kepikiran, makan obatnya, jadi tak tepat. Kalau sahur, kan bisa tetap jadi 3 x 1 hari.

''Ya, udah. Tak usah puasa saja.'' Kata istri, lalu segera menyiapkan nasi goreng.

Saya masih tetap makan nasi goreng, sarapan paginya lho. Tapi tetap sedikit. Hanya 100 gram. Oh ya, saya juga masih tetap membiasakan pagi hari sebelum sarapan untuk minum susu MDL 525. Itu, susu yang lagi ngetop itu. Berbahan kacang kedele murni.

Selain pagi, juga saya minum malam hari. Kalau malam penting, untuk mengganjar perut, agar benar-benar tak makan malam. Atau tidak makan nasi lah.

Minggu, April 13, 2008

Pagi Lontong Pecel, Sore Mie Ayam

Menyalahikah? Sarapan pagi, lontong pecel. Dikit sih, sipenjual ngasih, tapi harganya lima ribu. Sebelumnya banyak, tapi harga 6 ribu. Apa strategi dia? Tak pentinglah, tapi menyalahi anggaran 100 gram makan nasikah?

Lalu sore hari, makan mie ayam pak de, yang lewat depan rumah. Terjadi, karena istri kasihan pada saya. Namun telah dikuranginya dari jatah satu mangkok.

Tapi siang makan nasi emang tetap 100 gram. Sedangkan malam, tak ada makan nasi lagi. Udah tiga hari, masuk malam ini, tanpa nasi. Tapi malam ini, tetap makan tiga potong bakwan jagung yang dikasih tetangga depan. Yang ini istri tetap ngomel.

Cukup, atau berlebihkah kalori 2.100 yang harus saya penuhi?

Sabtu, April 12, 2008

Makan Siang Kelebihan Nasi 100 Gram

Hmm...makan siang hari ini, pasti dah, kelebihan nasinya 100 gram. Karena kelaparan, makan siang sambil rapat di lantai enam Graha Pena, Batam dilakukan. Waktunya pun udah telat, 13.20 WIB. Apalagi ini nasi kotak dari Rumah Makan Pak Datuk.

Sebenarnya sih, nasi kotak dijamin sedikit lebih sedikit ketimbang nasi bungkus. Tapi saya kan sudah ditakar 100 gram. Makanya, malam ini bertekad tak makan nasi. Sore tadi pun, jam 4, saya lahap sayur daun kacang panjang yang dimasak bersantan oleh istri. Ini saya lakukan dengan menganggap pengganti snack.

Pastilah, dokter Danang tak setuju dengan ''konsep'' saya itu. Saya beranggapan, sebagai calon penderita diabetes, saya sah saja makan agak berlemak sedikit. Asal saja saya bisa menghindari nasi yang banyak. He...he...he...

Jumat, April 11, 2008

Pagi Ini Lupa Makan Obat

Pagi ini lupa makan obat Captopril dan Glu...(apa ya, maaf lupa). Captopril untuk tekanan darah. Glu..itu tentu saja untuk menurunkan glukosa. Tadi lengah sih, sesudah makan mie goreng yang ditakar juga oleh istri (kurang 100 gram kayaknya), jadi lupa makan obat.

Berpengaruhkah pada saya? Padahal, Captopril itu dimakan 3 x 1 tablet. Sedangkan Glu.. 1 x 2 tablet. Tapi yang jelas, jam 10 lewat ini, saat postingan, perut sudah melilit. Sama persis deh dengan kemarin. Tapi hari ini saya tak bawa roti jagung (padahal sudah dibawa istri). Juga tak ada yang membawakan gorengan tahu atau tempe lagi. Lapar...

Tapi makan siang nanti, seusai Jumatan, saya akan tetap berusaha fokus, makan nasi hanya 100 gram tiap sesi makan. Saya akan perbanyak sayur dan sesudah itu makan buah.

Sory ya...postingan dihentikan, perut sudah melilit sekali nih. Haruskah saya makan kue yang ada di ruangan kerja saya, yang sebenarnya untuk tamu itu? Maaf ya...

Kamis, April 10, 2008

Makan Nasi Hanya Boleh 100 Gram

''Tak usah terlalu dipikirkan. Santai aja. Yang penting nasi dikurangi.''

''Kalau ayah bisa makan nasi di takar begini terus, nanti kalau dikasih banyak, bisa-bisa nolak. Kan jadi terbiasa.''

Kalimat pertama dari mak. Dia sudah sukses membuat papa, turun glukosanya. Kini, dia yang kasihan lihat papa, yang sangat tahan berpantang makan gulai apalagi rendang. Maklum, kami yang melayu, makanya memang seperti itu, ada santan.

Kalimat kedua, itu istri saya. Tentu saja dia sudah mendapatkan pesan dari mertuanya (mak saya). Sejak awal, memang istri saya wanti-wanti soal makan nasi. Karena itu, setelah diperiksa glukosa saya tinggi (sedang puasa 155 dan tidak puasa 190), dan disebut dokter Danang sebagai calon penderita diabetes (lihat blog ade-syahlan.blogspot.com), maka, niat untuk sedikit makan nasi, jadi fokus sekarang.

''Timbang ke rumah Buk Yugus dulu. Berapa banyaknya 100 gram.'' Istri membawa piring dan mangkok kecil. Selanjutnya, dia sudah tahu takaran nasi untuk saya. Setiap kali makan, mulai dari pagi, makan siang hingga malam, masing-masing saya ditakar 100 gram untuk nasi.

Sedangkan yang lain, hanya dibatasi, tidak banyak. ''Goreng-gorengan boleh. Tapi dikit. Satu aja, misalnya tahu. Minum teh juga boleh, tapi gulanya dikit. Lebih baik lagi gulanya tropicana.'' Istri saya, membuat peraturan.

Tapi memang, meski sudah sarapan pagi (sekitar jam 7 kurang), saat jam 10, perut sudah terasa lain. Utamanya hari kedua saya mulai ''bertakar ini''. Tapi saya tetap merasa beruntung. Karena saya bukan perokok, jadi kurang suka kopi. Dan juga tak senang teh. Saya ngeteh jarang sekali. Nah, nasi itulah yang sering banyak.

Hm...mm...saya siap-siap pulang dulu ya. Perut sudah makin melilit nih, meski tadi ada teman kantor bawakan tahu dan tempe goreng, karena dia melewati gorengan dekat Kantor Camat Lubukbaja tadi.

Doakan ya, saya berhasil melewati diet makan nasi ini....